Menurut pakar pemasaran Philip Kotler (2000) pemasaran dipengaruhi oleh tiga hal penting yaitu pertama, globalisasi dimana kekuatan Global akan terus mempengaruhi kehidupan bisnis dan pribadi setiap orang. Kedua, teknologi dimana teknologi akan terus maju dan mengagumkan bagi kita. Ketiga deregulasi dimana ada dorongan yang terus menerus kearah deregulasi sector ekonomi melalui kebijakan pemerintah dan peran negara. Pemasaran dipandang sebagai tugas untuk menciptakan memperkenalkan dan menyerahkan barang dan jasa kepada konsumen dan perusahaan.
Para pemasar melakukan pemasaran pada 10 jenis produk yang berbeda antara lain:
- Barang
- Jasa
- Pengayaan Pengalaman
- Peristiwa
- Orang
- Tempat
- Properti
- Organisasi
- Informasi
- Gagasan.
Philip Kotler (2000) mendefinisikan pemasaran sebagai suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan. Sedangkan American Marketing Association (AMA) mendefinisikan pemasaran sebagai aktivitas, lembaga, dan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, serta mempertukarkan penawaran yang bernilai bagi pelanggan, mitra, dan masyarakat dan The Chartered Institute of Marketing (CIM) menyatakan bahwa pemasaran adalah proses manajemen yang bertugas mengidentifikasi, mengantisipasi, serta memenuhi kebutuhan pelanggan secara menguntungkan.

Baca Juga: BATIK NAMBURAN MENGIKUTI PAMERAN INACRAFT 2025
Pemasaran terus mengalami perkembangan dari masa ke masa melalui perjalanan yang cukup Panjang. Menurut Kotler, Kartajaya dan Setiawan (2014) evolusi pelasaran dimulai dari marketing 1.0 yang disebut product-driven marketing yaitu pemasaran yang menekankan pada produk. Evolusi selanjutnya pemasaran yang berorientasi pada pelanggan yang disebut sebagai customer-oriented marketing menjadi perjalanan marketing 2.0. Evolusi berlanjut pada marketing 3.0 dengan orientasi memusatkan pada manusia (human-centric marketing). Evolusi marketing terus berjalan sampailah pada masa marketing 4.0 dimana ada bagian yang membedakan antara tradisional dan modern yang ditunjukkan melalui digitalisasi atau disebut digital-oriented marketing yang menggerakkan dari tradisional ke modern. Era ini adalah era dimana terjadi perbedaan signifikan antara tradisional dan modern karena digitalisasi sudah menjadi budaya baru bagi manusia dalam melakukan banyak hal termasuk transaksi pemasaran modern atau sering disebut kekinian. Pemicu luar biasa yang mendorong terjadinya proses digitalisasi lebih cepat adalah hadirnya pandemic covid-19 yang merubah semua tatanan bermasyarakat sehingga muncullan ide dan kreatifitas baru dalam pemasaran untuk tetap dapat bertahan hidup dan menjalankan kehidupan agar mampu bertahan dalam masa-masa yang sulit. Saat inilah evolusi berlanjut pada marketing 5.0 yang dikenal dengan technology and society-oriented marketing dimana era ini adalah era pemasaran Teknology untuk Kemanusiaan.
Marketing 5.0 dapat diwujudkan melalui tiga tantangan besar yaitu pertama. Kesenjangan generasi, kedua, polarisasi kekayaan, dan ketiga, kesenjangan digital. Menurut Kotler, Kartajaya dan Setiawan (2014) dalam bukunya Marketing 5.0 disebutkan bahwa ini adalah pertama kalinya dalam sejarah 5 generasi hidup bersama di bumi dengan sikap, preferensi dan perilaku yang bertolak belakang dimana generasi the baby boomer dan generasi Z serta alpha sering terjadi kesalahpahaman komunikasi. Ketidaksetaraan kekayaan juga menjadi gap yang memunculkan banyak persoalan kemanusiaan derta digitalisasi yang memaksa semua generasi untuk dapat menguasai agar dapat bertahan hidup membuat generasi yang lebih tua merasa sangat berat dalam menyesuaikan diri. Hal ini mengakibatkan para pelaku pemasaran dari generasi yang lebih tua dari millennial dan generasi Z harus melakukan kolaborasi dengan generasi muda untuk menjalankan bisnisnya di era marketing 5.0. Kecanggihan AI yang mampu menemukan pola perilaku pelanggan, yang sebelumnya tidak pernah dapat diketahui dari data-data yang ada. Namun demikian disini saat Marketing 5.0 memberikan gambaran bahwa peran pemasar dalam menyentuh kemanusiaan tidak dapat begitu saja digantikan oleh teknologi secanggih AI.
Bukti nyata dilakukan oleh media sosial dimana manusia berkumpul untuk dapat saling berkomentar termasuk dalam kaitanya dengan pemasaran produk. Sebagus apapun gambar iklan yang dibuat oleh AI kenyataanya pelanggan akan melihat kolom komentar dari mereka yang memberikan tanggapannya terhadap produk yang telah mereka gunakan. Pelanggan seperti menjadi sekutu bagi perusahaan yang memberikan produk buruk akan beramai-ramai di berikan komentar buruk. Disinilah peran manusia sebagai makhluk sosial tak tergantikan oleh teknologi peran menyentuh hati dengan respon manis, menghargai setiap komentar dengan baik, menjawab semua pertanyaan dengan santun akan terasa lebih manusiawi bagi pelanggan sehingga mereka merasa tetap ingin berhubungan dengan produk dengan pelayanan yang baik secara sosial.
Oleh: Evi Rosalina Widyayanti
Batik Namburan Indonesia

